You are currently viewing TEHNIK MENGAJAR DENGAN HUKUM PANTUL

TEHNIK MENGAJAR DENGAN HUKUM PANTUL

Pengalaman mengajar di SMP MUHAMMADIYAH 2 SURABAYA.

Di era perkembangan zaman saat ini yang serba menggunakan kecanggihan teknologi, tentu sangat menarik berbicara mengenai pengalaman mengajar. Kecerdasan otak kita dituntut untuk bisa fleksibel agar tidak ketinggalan zaman. Mau di akui atau tidak anak zaman sekarang lebih menguasai kemajuan internet di bandingkan kita sebagai guru yang hidup di zaman serba manual. Jujur saya akui zaman sekarang semua komunikasi terselesaikan hanya dengan mengandalkan jari-jari manis kita.

Beberapa orang di sekitarku berpendapat “Indahnya warna hidup tak seindah apa yang kita rasakan” dan sepertinya saya sependapat dengan mereka. Untuk memahami arti sebuah warna kehidupan tentu tidak mudah seperti kita membalikkan kedua tangan atau mengkerdipkan kedua kelopak mata kita. Banyak sekali peristiwa di depan kita yang harus di hadapi jika kita ingin menemukan warna kesukaan kita. Ibarat seorang pelukis, saya harus menyiapkan dulu kanvas berukuran besar agar bisa melampiaskan kreatifitasku dalam proses belajar mengajar sebagai guru Seni Budaya di SMP MUHAMMADIYAH 2 SURABAYA.

Guru dan anak zaman sekarang lebih menyukai wujud audio visual yang tersebar di media sosial yang sering mereka jumpai di handphone sebagai barometer pembelajaran di bandingkan membaca buku. Jadi guru zaman sekarang harus berani update dan upgrade di dalam memberikan pembelajaran agar siswa-siswi merasa betah di kelas. Bagi saya seorang guru adalah orang yang ahli menciptakan ide kreatif dalam menghadapi segala hal (Persoalan/Konflik) yang terjadi di sehari-hari di dalam kelas, agar suasana proses belajar mengajar berjalan dengan baik.

Guru yang genius adalah mereka yang mampu melihat jauh ke depan dan mampu mewujudkan target materinya bisa nyampai ke siswa-siswinya. Bagi saya para guru memerlukan keseimbangan antara orientasi jangka anjang dan jangka pendek. Visi Jangka Panjang untuk memberikan inspirasi bagaimana melakukan perubahan dan inovasi besar. Visi Jangka Pendek sebagai energy untuk mendorong kreativitas guru dan siswa-siswinya untuk berupaya mewujudkan impian sang guru.

Walau demikian, seorang guru akan berusaha memulai dengan pandangan jauh ke depan terlebih dahulu dimana siswa-siswinya tidak mampu melihatnya. Para Guru harus mampu melihat kesempatan dalam kondisi yang komplek dan penuh ketidak pastian.  Mereka memiliki radar untuk melihat pergerakan tren pada masa mendatang. Mereka memiliki intuisi yang tinggi terhadap perubahan teknologi ke depan atau perubahan struktur industry ada masa mendatang.

Seorang guru harus memiliki ide yang cemerlang, imajenatif dan banyak memaksimalkan kerja otak kanannya untuk menghasilkan kreativitas dan bukan otak kiri yang hanya berpikiran secara Rasional. Tetapi Otak kiri berfungsi mewujudkan ide-ide tetapi untuk memulai ide-ide radikal dan cemerlang, lebih banyak di butuhkan otak kanan untuk menghasilkan sebuah karya.

Seorang guru bukanlah sekedar genius untuk menciptakan teknologi atau produk yang spektakuler. Akan tetapi mereka harus sanggup membuat produk atau inovasi yang memang di kehendaki oleh siswa-siswinya. Oleh karena itu, seorang guru harus bisa berkolaborasi dengan siswa-siswinya.

5 point yang jika ingin menjadi seorang guru genius

1. Kecerdikan / Ingunuity ( Penciptaan karya ).

2. Siapakan si guru genius ( Kreativitas dengan Intelegensi dan Imajinasi) dan Pemikiran (Otak si kreator genius).

3. Strategi ( Merancang setiap Bab menjadi sebuah hasil karya ), Inovasi ( Berpikir Yang Orang Lain Tidak Pikirkan),  Kompetisi ( Menciptakan prestasi), Relationship ( Menjalin kerja sama di dalammenjalankan strategi).

4. Kepemimpinan ( Seorang guru harus bisa menjadi panutan bagi siswa-siswinya ).

5. Masa Depan (Seorang guru tidak boleh menebak siswa-siswinya akan menjadi apa, tapi bagaimana seorang guru harus bisa mengarahkan sisiwa-siswinya agar bisa menjadi seseorang yang berguna d imasa depan bagi dirinya sendiri dan orang di sekitarnya).

Untuk mempelajari sikap siswa-siswi SMP tentunya tidaklah mudah, saya sebagai guru harus memiliki objek yang akan di teliti. Kemudian tidak hanya cukup melihat dan mempelajari gerak-gerik siswa-siswi, tapi terlebih dahulu harus mengetahui latar belakang objek ( siswa-siswi) tersebut. Setiap peristiwa yang terjadi dalam kelas harus terdapat aksi-reaksi yang mampu di terapkan oleh seorang guru kepada siswa-siswinya.

Untuk mengatasi hal itu, penulis sependapat dengan Michael W.Mercer,Ph.D. Di dalam bukunya yang berjudul “Kiat Pemenang” yang berisi tentang Ketrampilan-Ketrampilan Yang Berdampak Besar Bagi Keberhasilan Karir anda. ( Mercer, tt : 14-17 ). “ … pantulkan apa yang anda lihat dan dengar. Dengan menggunakan Teknik Pantul, maka para guru dapat membantu dalam memberikan kesan bagus pada siswa-siswinya, yaitu dengan cara memantulkan tubuhnya  kepada lawan bicara.

Cara ini merupakan cara yang sangat halus untuk menghilangkan kebiasaan-kebiasaan buruk seorang guru. Para guru harus bisa dengan cepat mengenali kebiasaan-kebiasaan khusus siswa-siswinya dan menggunakan kebiasaan-kebiasaan tersebut bila berhubungan dengannya. Maka secara otomatis anda sebagai guru sudah melakukan proses belajar mengajar dengan benar. Secara halus anda sebagai guru sudah memperlakukan siswa-siswi seperti anda ingin di perlakukan secara khusus.

Anda sebagai guru dapat memantulkan atau membuat diri anda terlihat sama dengan seseorang dalam hal Bahasa tubuh, gaya vokal, cara berpakaian. Dengan memantulkan perilaku-perilaku ini, maka anda sebagai guru akan memberikan kesan pada siswa-siswi itu. Teknik memantulkan paling dasar yang dapat anda gunakan adalah memantulkan bahasa tubuh anda dengan siswa-siswi sebagai lawan bicara. Apa bila hal ini anda lakukan dengan baik, maka anda dengan sangat cepat dapat membuat anak didiknya merasa senang dengan anda,

Saya ingin sekali mencoba mengajak anda menemukan pembenaran dari Teknik Pantul, sehingga anda memberanikan diri untuk mengajak siswa-siswi bercakap-cakap, bagaimana perasaan anda saat itu ? Apakah anda merasa sejalan, cocok atau merasa senang dengannya ? Pasti anda akan menjawab “Tidak”. Tentu tidak banyak  orang bisa merasakan situasi yang menyenangkan. Kebalikannya, anda mungkin merasa bahwa siswa-siswi anda  itu akan memanfaatkan anda atau menguasai anda.

Teknik selain memantulkan sikap tubuh adalah memantulkan gerakan-gerakan, misalnya saja ada orang yang Jika berbicara selalu disertai gerakan-gerakan tangan. Dalam kasus seperti ini, orang tersebut akan merasa tidak enak Jika harus berbicara dengan orang yang selalu menaruh tangannya di belakang, karena anda merasa tidak sejalan. Mungkin anda akan merasa bahwa lawan bicaranya orang yang tertutup. Sementara orang yang menjadi lawan bicaranya merasa yakin bahwa orang yang berbicara disertai dengan gerakan tangan itu terlalu dramatis atau emosional.

Mempelajari sikap manusia dari segi tubuh sebagai alat komunikasi menurut penulis  sangat menarik sekali, karena dengan sikap tubuh anda bisa mengangkat derajat diri sendiri kepada orang lain, bahkan anda juga bisa menjatuhkan derajat diri sendiri di depan orang lain, misalnya : Sekarang anda berada di rumah pacar anda, kehadiran anda adalah yang pertama kali dan langsung bertemu dengan orang tua pacar anda. Bagaimana sikap anda ketika bertemu, duduk di ruang tamu sedang berhadapan dengan orang tuanya ? Jika tubuh anda siap, tentunya anda tidak perlu bingung. Tapi bagaimana jika tubuh anda tidak siap, anda pasti salah tingkah, sehingga susah untuk memulai bicara. , anda akan menemukan solusi yang tepat jika anda menerapkan salah satu metode Michael W.Mercer,Ph.D seorang ahli psikologi industry, yaitu metode pemantulan gerak tubuh.

Kemudian saya mencoba mengambil kesimpulan bahwa belajar bersabar itu tiada akhir dan kunci keberhasilan kita bisa menemukan warna kehidupan  yang kita sukai adalah kita harus bisa ikhlas menjalani hidup ini dengan perasaan senang agar kita bisa menikmati hikmah dari semua pengalaman yang kita hadapi dan semoga dari warna-warni yang kumiliki selama ini bisa membantu siswa-siswi menemukan jati dirinya.

Penulis : Luddy Saputro, M.Sn (Guru Seni Budaya)

Editor : Yunan Imannu

Share yuk

Tinggalkan Balasan