You are currently viewing RAHASIA YANG TERUNGKAP

RAHASIA YANG TERUNGKAP

Manusia sebagai makhluk ciptaan Tuhan yang paling sempurna ( Q.S At- Tin 5). Secara fisik, memang manusia memiliki stuktur tubuh yang sempurna,ditambah lagi dengan pemberian akal,maka ia adalah makhluk jasadiyah dan ruhaniyah . Namun tidak demikian kenyataan yang kita pahami. Kita hanya memahami sepenggal ayat tersebut.
Dalam pendahuluan bukunya, Revolusi IQ/EQ/ SQ,Taufik Pasiak mengungkapkan bahwa di antara dokter yang lulus tepat waktu(6,5-7 tahun) dengan indeks Prestasi Komulatif (IPK) diatas 3,0 merupakan dokter-dokter yang gagal, baik sebagai kepala Puskesmas maupun dokter praktik swasta. Ketika menjadi kepala Puskesmas, mereka menjadi pemimpin yang gagal. Ketika membuka praktik, mereka kekurangan pasien.Sementara kawan-kawan mereka banyak yang drop out karena terlalu lama sekolah, juga dengan IPK biasa, justru menjadi dokter- dokter yang berhasil ketika bekerja di lingkungan masyarakat.


KENGINAN ORANG TUA


Tidak bisa dipungkiri bahwa kebanyakan dari kita ingin sekali memiliki anak pintar dan cerdas. Kita pun merasa bangga memiliki anak yang pintar dan cerdas. Bisa berhitung dengan cepat, berbicara bahasa Inggris dengan lancar dan fasih, menemukan rumus-rumus untuk menyelesaikan soal-soal fisika, terampil sekali menghafal peta-peta dan seabrek kemampuan-kemampuan yang mengarah ke intelegensi. Mau tidak mau,suka atau tidak suka akhirnya terciptalah sebuah anggapan bahwa anak yang sukses adalah anak yang memiliki hanya pada kemampuan akademis semata.

Meskipun zaman sudah berubah, sebuah zaman milenium. Hingga sampai detik ini pun masih banyak orang tua yang menganggap bahwa anaknya sangat bodoh, tidak bisa ini dan itu. Dan pada akhirnya,si anak menjadi korban dari kemauan serta keinginan orang tua yang ingin sekali anaknya berprestasi meraih nilai-nilai yang unggul dan pandai dalam segala hal.
Dalam benak mereka, bahwa anak yang sukses ke depan adalah anak yang bisa berhasil meraih nilai yang sangat bagus. Sampai-sampai karena rasa takut yang menghantui orang tua, si anak kerap dimarahi karena saat ulangan mendapatkan nilai yang jelek. Setiap pulang sekolah selalu ditanya nilai-nilai yang telah didapatkan si anak. Bagi si anak, hal tersebut tentulah tidak nyaman.Takut,cemas, dan khawatir selalu menyelimuti diri si anak.Di sekolah pun,si anak tidak malah bersemangat untuk mendapatkan pemahaman dari apa yang menjadi kelemahan dalam pelajarannya. Di kelas, dia malah lebih banyak melamun dan tertidur.
Melihat kondisi anaknya yang demikian, dan tidak ingin lebih parah lagi maka orang tua mencarikan LBB yang bagus agar bisa menjadi solusi bagi anaknya, pikir orang tua. Nilai-nilai akan terdongkrak naik, dan pastilah bisa mengangkat derajat gengsi.
Orang tua pun merasa agak tenang dan sedikit tersenyum, namun sebaliknya si anak seakan tertusuk pisau hati dan pikirannya.Betapa tidak,karena di tempat LBB pun si anak bukan dilayani sebagai pasien yang diberi pengobatan untuk menyembuhkan rasa takut,cemas,dan khawatirnya, tetapi disuguhi dengan persaingan dengan teman- teman sekelas yang rata-rata mereka adalah anak-anak pintar dari sekolah favorit.

KEBINGUNGAN ORANG TUA

Hari demi hari, sampai berbulan- bulan, ternyata kondisi nilai tidak mengalami kemajuan bagi anak. Orang tua pun menyalahkan pihak LBB dengan alasan sudah membayar mahal namun hasilnya tidak nampak. Karena tidak mampu memberikan pengubahan dalam status nilai anak.
Kebingungan muncul kembali pada orang tua. Kali ini orang tua, merasa pasrah. Tidak tahu apa yang akan dan harus diperbuat. Dikuatkan hatinya,dan berkonsultasilah orang tua dengan walikelas dan guru BK.
Tanpa disadari orang tua bahwa si anak yang selama ini sebenarnya telah mengikuti dan menekuni ekstra kurikuler taekwondo selalu merasa nyaman dan bangga. Dari beberapa pertandingan yang telah diikuti dan sudah hampir tiga tahun berjalan, banyak sekali penghargaan yang diraihnya. Hingga pada tahun ke-3 sekolah di SMP Muhammadiyah 2 , dan dipengujung kelas 9 si anak masih menorehkan prestasi yaitu pemerolehan medali tingkat Jawa Timur di bidang taekwondo.Tentu tidaklah mudah untuk mendapatkan penghargaaan itu.
Rasa tanggung jawab, kedisiplinan, jiwa ksatria, menghargai orang lain, motivasi, mengakui kekurangan dan kelebihan baik lawan maupun diri sendiri tumbuh menjadi satu pada diri si anaksehingga menjadi pemenang. Inilah harga mahal yang seharusnya juga di jadikan tolak ukur untuk sebuah keberhasilan
Seiring perjalanan waktu, mulailah orang tua terbuka pikiran dan hatinya, yang selama justru tertutup sama sekali. Seakan cahaya Illahi telah menyapa orang tua tersebut dan sedikit menetelah air matanya. Ya Allah, ternyata anakku pandai dan cerdas!! Bodohlah aku yang selama menganggap anakku bodoh.
Inilah salah satu potret kongkrit yang seharusnya kita ubah. Suatu kesalahan besar jika kita masih menomor satukan sisi intelegensi. Dan menolak atau membuang sisi yang lain. Padahal satu diri anak memiliki keunikan dan ciri khas kecerdasan yang berbeda-beda.

BERAGAM KECERDASAN

Kesimpulannya, bahwa kecerdasan manusia itu tidak tunggal, tetapi majemuk bahkan tak terbatas. Ada Kecerdasan Bahasa, Kecerdasan Logis-Matematis,Kecerdasan Visual-Spasial, Kecerdasan Kinestetik, Kecerdasan Musik, Kecerdasan AntarPribadi, Kecerdasan Intrapersonal, dan Kecerdasan Natural. Hal ini seiring dengan ayat Al Quran di atas yakni penciptaan manusia yang dilengkapi dengan akal. Akal yang berarti kepandaian atau kecerdasan.
Bahagiakan dan hargailah anak-anak kita dengan kecerdasan yang mereka miliki. Mereka adalah generasi yang perlu kita gali dan bimbing sesuai dengan bidang keahlian mereka. Tuntunlah mereka tatkala mereka menyerah. Sambutlah mereka dengan senyum dan ucapan yang menghibur ketika mereka melakukan hal-hal yang membanggakan. Suatu saat akan datanglah anak-anak di hadapan kita dengan kejutan-kejutan prestasi.

Penulis : Dra. Eny Kesuma Herawati (Guru Bahasa Indonesia)
Editor : Yunan Imannu

Share yuk

Tinggalkan Balasan