You are currently viewing DILEMA MATEMATIKA

DILEMA MATEMATIKA

Menjadi seorang pendidik di sekolah keberbakatan SMP MUHAMMADIYAH 2 Surabaya adalah kesempatan yang luar biasa bagi saya, tapi juga menjadi sesuatu dilema mengingat mata pelajaran yang saya ampu adalah matematika.

Akademis bukanlah hal mutlak di sekolah ini, anak-anak diajak untuk lebih mengasah bakat dan kemampuan personalnya, tetapi memang bukan berarti tidak ada anak didik yang tidak mempunyai kemampuan akademis sama sekali.

Sejauh yang saya amati cukup banyak anak-anak yang mempunyai kemampuan akademis luar biasa khususnya matematika. Pengalaman mengajar selama kurang lebih 10 tahun membuat saya semakin banyak belajar bagaimana menjadi pendidik yang baik.

Disaat mendengar kata MATEMATIKA sontak pasti yang ada dipikiran anak-anak adalah sulit, banyak PR, gurunya galak dan tidak menyenangkan. Mind site yang sudah menancap dalam otak anak-anak seperti inilah yang harus saya rubah dan itu bukan sesuatu yang mudah mengingat hal tersebut sudah cukup lama tertanam dalam pikiran mereka.

Tak sedikit dari anak-anak yang pernah saya ajar rata-rata memang mempunyai dilema yang cukup serius dengan matematika. Diawal mengajar saya selalu mendoktrin mereka bahwa mereka harus merubah cara berfikirnya tentang matematika saya pun meminta anak-anak untuk menancapkan dalam fikirannya bahwa “matematika itu mudah, matematika itu menyenangkan, matematika itu semakin sulit semakin menantang dan satu lagi jago matematika itu sexy”.

Dari tahun ke tahun saya juga harus banyak belajar merubah cara mengajar saya berdasarkan pengalaman tahun-tahun sebelumnya. Secara bertahap saya pun mulai merasakan hasilnya. Tak sedikit dari mereka yang mulai merasakan asyik dan nikmatnya belajarnya matematika.

Kira-kira apa yang saya lakukan untuk membuat anak-anak senang dengan matematika ? Saya sadar betul dengan background sekolah keberbakatan saya tidak mungkin memaksa anak-anak untuk harus memiliki nilai matematika yang sempurna. Yang bisa saya lakukan hanyalah memberikan mereka motivasi, motivasi dan motivasi.

Kalau diamati bisa dibilang dalam satu kali tatap muka dua jam pelajaran yang saya lakukan adalah satu jam memberi motivasi diawal mengajar baru satu jam sisanya saya berikan materi.

Satu hal yang paling penting adalah saya selalu berusaha menanamkan nilai-nilai aqidah dan akhlaqul karimah kepada mereka. Mengajarkan akhlaq yang baik bukanlah tugas mutlak guru PAI saja tetapi juga seyogyanya tugas semua guru mata pelajaran apapun. Ada pepatah yang mengatakan “berilmu tapi tidak beriman, maka rusak dunia dan sebaliknya beriman tanpa berilmu, maka buta dunia”.

Sejauh ini saya sudah berusaha menjadi pendidik yang baik dan tentunya saya juga menyadari bahwa saya harus bisa memberikan contoh yang baik.

Tak jarang ketika selesai menyampaikan suatu materi saya selalu bertanya kepada anak-anak “adakah yang masih belum paham dengan penjelasan ibu?” jika masih ada yang belum paham, maka sudah pasti kewajiban seorang guru menjelaskan kembali. Apabila setelah dijelaskan kembali masih juga belum paham barulah saya meminta tolong salah satu anak didik yang sudah paham untuk membantu menjelaskan kepada temannya yang belum paham, karena tidak menutup kemungkinan bisa jadi dengan metode tutor sebaya siswa jauh lebih paham dengan materi yang kita sampaikan.

Sekolah ini memang sangat dikenal dengan bakat-bakat non akademis para anak didiknya, tetapi bukan berarti sekolah ini tidak mengasah bakat-bakat akademis yang dimiliki siswa.

Sekolah ini memiliki LAB BIDANG STUDI yang dimana berfokus memberikan pembinaan bagi anak didik yang memiliki kelebihan dibidang akademis dan ingin lebih berfokus meningkatkan akademisnya. Tutornya adalah para tutor-tutor pilihan yang memang sudah disiapkan untuk hanya fokus membimbing anak-anak ini. Tujuannya supaya sekolah ini tidak hanya dikenal dengan prestasi-prestasi non akademisnya tetapi juga dikenal dengan prestasi-prestasi akademisnya.

Tak sedikit dari anak-anak yang pernah dibimbing khusus di LAB BIDANG STUDI merasakan hasilnya, mereka merasa lebih percaya diri dan tersalurkan bakat akademisnya.

Secara pribadi saya mungkin memang bukan seorang pengajar matematika yang pandai dan sempurna, tetapi bagi saya membuat anak-anak didik saya mulai banyak yang menyukai matematika adalah suatu kebahagiaan tersendiri. Meraka harus suka dulu dengan matematika karena dengan menyukainya maka mereka akan tidak mudah menyerah dan semakin semangat dalam mempelajarinya sesulit apapun permasalahan yang dihadapinya.

Tak sedikit dari para alumni yang mereka mulai merasakan nikmatnya belajar matematika sampai saat ini masih melakukan komunikasi dengan saya baik melalui media chatting, media sosial maupun bertemu langsung.

Terkadang apabila mereka mendapatkan soal-soal matematika yang mereka mengalami kesulitan mengerjakannya, maka mereka menghubungi dan bertanya kepada saya. Bagi saya tidak ada predikat mantan murid atau mantan guru. Meskipun telah SMA atau bahkan kuliah mereka tetap murid-murid saya. Bahkan tidak sedikit dari mereka yang meminta saran harus melanjutkan pendidikan kemana.

Sejauh yang saya amati tidak ada orang yang tidak bisa matematika, selama bisa menghitung uang berarti mereka bisa matematika. Ada beberapa pesan yang selalu saya sampaikan kepada anak didik saya bahwa jangan pelit dalam berbagi ilmu, ilmu itu semakin kita amalkan dan bagi tidak akan berkurang dan semakin berpahala. Sesuai dengan kutipan sebuah hadist “Telah putus semua perkara manusia ketika dia meninggal dunia kecuali tiga hal yaitu amal jariyah, do’a anak yang sholeh dan ilmu yang bermanfaat”.

Kebahagiaan terbesar seorang pendidik adalah melihat para anak didik nya berhasil. Tolak ukur keberhasilan bukanlah semata-mata hanya dari segi nilai yang bagus saja, tetapi dari akhlaq yang bagus merupakan hal yang paling penting dari sebuah keberhasilan.

Menjadi orang yang bermanfaat adalah suatu kebanggan tersendiri bagi saya. Meskipun itu hanyalah hal yang sangat sederhana dan sepele. Mengingat matematika adalah suatu momok bagi anak-anak, maka saya tidak mengharapkan yang muluk-muluk kepada mereka, cukuplah saya bisa berbagi ilmu yang manfaat dan menjadi manusia yang bermanfaat bagi anak didik dan orang-orang disekitar saya maka saya sudah cukup puas.

Saya banyak belajar dari sekolah ini, saya mendapatkan banyak ilmu, banyak pengalaman dan banyak teman dari sekolah ini, menjadi orang yang berilmu saja itu tidaklah cukup untuk bekal kehidupan saya, masih banyak yang harus diperbaiki dan dipelajari dari dalam diri saya.

Tak jarang bahkan saya harus belajar tentang kehidupan dan ilmu akademis justru dari anak didik saya. Belajar itu bisa dari berbagai sumber, tidak memandang usia, terkadang yang tua bisa belajar dari yang muda. Jangan berhenti belajar dan jangan menyerah, jadilah orang yang selalu memberikan manfaat dimanapun berada.

Penulis : Fahmi Hidayati, S.Pd (Guru Matematika)

Editor : Yunan Imannu

Share yuk

Tinggalkan Balasan